Kemeriahan HUT RI dan Ingatan Masa Kecilku - Perempuan Pangkep

Hot

Post Top Ad

Kamis, 18 Agustus 2016

Kemeriahan HUT RI dan Ingatan Masa Kecilku

Sejak kecil salah satu tanggal merah di bulan Agustus yang selalu membuatku antusias dan aku nantikan adalah Hari Peringatan Kemerdekaan yang setiap tahunnya jatuh pada tanggal 17 Agustus dan itu adalah TANGGAL MERAH. Berbicara TANGGAL MERAH rasanya saat kecil menjadi TANGGAL yang paling menggembirakan sejagad dunia, Yuhui TANGGAL MERAH berarti LIBUR dan GAK SEKOLAH. Catet !
  
Seperti tahun-tahun sebelumnya peringatah hari kemerdekaan selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan mulai dari upacara penaikan bendera yang dilaksanakan di lapangan kantor kecamatan yang tak jauh dari kampungku, lomba baris-berbaris baik ditingkat kabupaten maupun tingkat kecamatan hingga berbagai lomba lainnya yang acapkali dipertandingkan di kampungku Tarusang seperti lomba makan krupuk, lomba sepeda dan lomba panjat pinang yang membuat heboh warga sekampung untuk berbondong-bondong melihatnya.


Namun yang paling memaksa ingatanku untuk kembali pada kenangan puluhan silam tentang hari kemerdekaan ini adalah saat diriku masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah kala itu yang harus mengikuti lomba baris berbaris sebagai team perwakilan sekolah.

Apa yang menarik dari lomba baris berbaris ini bagiku sehingga jika mengingatnya rasanya ingin tertawa. Betapa tidak, guru-guruku yang setiap kali jelang hari kemerdekaan ini tiba pasti akan mengalami sindrom kebingungan menggenapkan murid-murid yang akan mengikuti lomba baris berbaris di Kecamatan maupun di Kabupaten.


Kalian harus faham kawan bahwa kebingungan itu tak lain karna jumlah murid di sekolah kami Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah sekitar tahun 1992 amatlah kurang dan hingga saat ini pun jika aku perhatikan setiap kali lewat pun nampaknya masih kurang juga. 

Dan faktanya pula yang harus kalian ketahui, diriku pun sesungguhnya belum cukup umur kala itu untuk duduk di bangku sekolah dasar namun terpaksa harus bersekolah cepat dengan bujukan kepala sekolah yang sengaja datang ke kampungku hunting anak-anak untuk dijadikan murid di sekolah yang di pimpinnya itu agar mau segera bersekolah, strateginya pun sangat bagus, beliau langsung turun ke kampungku Tarusang dengan mengetok pintu rumah warga satu persatu dan kalian bisa menebak hasilnya, yup  aku termasuk salah seorang korban yang rumahnya di ketuk oleh Ibu Kepala Sekolah ini. 

Namun sesungguhnya jika mengenang perjuangannya mencari anak-anak di Kampungku untuk mau bersekolah cepat sungguh membuatku bangga, semangatnya yang tak pernah lelah mempertahankan eksistensi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah sungguh luar biasa, beliau adalah Ibu Hj. Rosmawati. 

(Nantilah aku ceritakan lebih lengkap tentang sosok kepsek pertama dalam hidupku yang mengajarkan banyak pengalaman dan cerita inspirasi selama diriku bersekolah di Mismuhammadiyah Labakkang ini)
Pertanyaannya kemudian mengapa Ibuku mau saja mengikuti ajakan Ibu Kepala Sekolah ini untuk menyekolahkanku padahal usiaku baru saja menginjakkan umur 6 tahun. Hingga saya mengira, barangkali ibuku menerima sogokan sejumlah uang tertentu agar mau menyekolahkan anaknya saat itu hahahaha, seharusnya Ibuku memberi sedikit perlawanan dengan berbagai alasan misalnya anakku masih kecil, aku masih ingin melihatnya bermain dan sejuta alasan lainnya bla bla bla duh Sinetron banged yah ! hahahaha.

Ternyata bukan itu kawan, alasan terbesar ibuku pada akhirnya setuju saya disekolahkan lebih cepat adalah bentuk penghargaan Ibuku pada sosok Kepsek ini yang dianggapnya begitu baik selama ibuku tinggal di kampung Tarusang juga dengan suaminya yang cukup disegani oleh masyarakat di kampungku dan termasuk Ibuku, yup Almrhum Karaeng Gassing. 

Maklum saja Ibuku bukan asli orang Labakkang Pangkep melainkan pendatang dari Sengkang-Wajo, tettakulah penduduk pribumi sesungguhnya di kampung ini dan syarat lainnya yang pada akhirnya aku ketahui adalah kepsek ini rela membantu Ibuku melengkapi kebutuhan seragam sekolahku yang sempat dikeluhkan oleh Ibuku.

Pemirsa, jangan cari kemana Ayahku yang sering aku panggil tetta yah pada situasi ini, aku sulit menceritakannya secara detail, itu harus aku skip dulu, maklum derita masa lalu soalnya hahaha, jika dibangkitkan tulisan ini gak kelar karna baper dan bisa berdampak bercucuran air mata dan leptopku bisa rusak saudara-saudara karna kebanjiran hahahaha 

Kembali ke peringatan HUT RI, meskipun sosokku yang masih sangat kecil, namun lomba baris berbaris ini sudah menjadi harga mati bagi sekolahku untuk berpartisipasi, alhasil saya pun diselipkan menjadi salah seorang peserta dan ditempatkan pada posisi paling belakang sesuai dengan tinggi badan dan berat badan, diriku dengan badan yang sangat ceking mau tidak mau tentulah  berada pada posisi paling belakang.

Ketika formasi baris berbaris telah ditentukan dan dinyatakan lengkap, ketika hampir semua murid diikutsertakan gak laki gak perempuan, semua digabung menjadi satu barisan utuh, maka jadwal pelatihan baris berbaris pun disepakati oleh Ibu guru dan Kepala Sekolahku yang dilaksanakan di sore hari. Kadang kami belajar berbaris di depan sekolah dan kadang pula kami memilih berputar mengelilingi kampung kami sendiri bahkan para orangtua kami terlihat begitu bangga saat melihat kami ikut baris-berbaris mengelilingi kampung Tarusang, tak sedikit bapak-bapak di kampung pun kadang meledek, jika salah satu gerakan tangan atau kaki kami salah melangkah.

Hampir dua pekan lebih segala persiapan pun telah kami lakukan mulai dari latihan tak kenal waktu dengan pengharapan tinggi semoga sekolah kami bisa menjadi juara, sekalipun prediksi itu tipis mengingat sejarah peringatan HUT RI setiap tahunnya untuk lomba baris-berbaris ini selalu dimenangkan oleh sekolah unggulan di Kecamatan kami, yah sekolah itu SDN 1 Labakkang. Pun pesaingnya juga tak kalah hebat SDN 2 Labakkang yang harus bertarung sengit memperebutkan juara, nah bagaimana dengan sekolahku? Kadang sebahagian besar anak-anak kampung sebelah malah menganggap bahwa sekolahku ini adalah sekolah pembuangan anak-anak kampung Tarusang yang tak mampu. 

Ah sudahlah, kebanggaanku dengan Madrasah Ibtidaiyah inilah yang rasanya jika ingin mengucapkan terima kasih maka sekolahku inilah yang paling pantas menerimanya, meskipun teman-teman angkatanku yang tak sampai 20 orang murid saat akan tamat SD sepengetahuanku banyak yang tak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena berbagai faktor.  

Kembali menyambut kemerdekaan RI kala itu masih berumur kalau gak salah ingat 47 tahun. Kami sibuk menyiapkan seragam berbaris yang kadang sesungguhnya perkara seragam ini justru yang membuat sebahagian orangtua di kampung enggang mengikutsertakan anaknya mengikuti lomba baris berbaris ini karena ketidakmampuannya secara ekonomi membelikan seragam. Maklum sebahagian besar warga di Kampungku hanya seorang petani atau penjual ikan.

Malah, nama-nama jalan di kampungku sengaja diberi nama-nama ikan oleh pemerintah setempat. Kalian tebak jalan di lorongku ikan apa coba ? aha, yang benar adalah Jalan Cakalang Lorong 3 Tarusang-Labakkang wkwkwkwkwwk, silahkan loh yang mau kirim parcel.

Kami akhirnya tiba di lapangan Kantor kecamatan Labakkang. Berbagai sekolah dengan team baris-berbarisnya sudah berkumpul dengan nomor undian yang telah dipasang di depan rok merah pemimpin masing-masing. Hingga tibalah giliran team Mismuhammadiyah Labakkang, kami kompak mengayunkan langkah mengikuti barisan sebelumnya dan rute yang dipilih adalah berbaris masuk ke desa Pattalassang. 

Dalam perjalanan baris berbaris team kami, sesungguhnya yang kadang menganggu pikiran saya kala itu adalah dimana team dewan juri yang akan menilai kami ? Kepala Sekolahku berpesan kepada kami semua bahwa di setiap titik tertentu, juri yang akan menilai barisan kami bersembunyi di semak belukar atau di rumah seseorang bahkan terkadang mereka akan menyamar bak penonton yang akan menganggu konsentrasi kalian supaya buyar. 

Oh Tuhan, jika memikirkannya saat ini rasanya saya ingin tertawa terpingkal-pingkal, sejauh itukah dewan juri itu wkwkwkw padahal hal itu adalah upaya kepsek kami meminta agar team sekolah kami meskipun tidak diunggulkan oleh banyak pihak tetap harus melakukan yang terbaik.

Dan kenangan ini semakin dalam saat kemarin dalam perjalanan masuk desa Tabo-Tabo harus terhenti karena melihat rombongan murid-murid SD se-Kecamatan Labakkang sedang mengikuti lomba baris berbaris, pas dibelakangnya rombongan orangtua serta gurunya pun tak lelah dan terus bersemangat mendampingi seluruh murid-muridnya. 

Kuhentikan motorku dan kuabadikan mereka dengan kamera handphoneku dan mengenang sosok diriku saat sesusia mereka menjadi bagian penting dalam formasi barisan dan ingatan lainnya yang juga tak dapat kulupakan bahwa aku pun pernah menjadi guru. Yah guru disalah satu SDN di Kecamatanku tak jauh dari kampungku yang sempat mendampingi murid-muridku saat akan bertanding di Kabupaten maupun di Kecamatan.

Dan tahukah kalian, sekolah beruntung yang pernah menggunakan jasaku sebagai seorang guru muatan lokal Bahasa Inggris adalah SDN 1 Labakkang. Ah sudahlah, panjang ceritanya, mengapa saya kemudian bisa terdampar mengajar di sekolah ini dan bukan di sekolahku sendiri yang telah memberikan banyak makna pembelajaran dan pengalaman yang luar biasa hebatnya bagiku. 

Bahkan di sekolah SDN 1 Labakkang ini pulalah saya banyak mengenal karakter tentang guru, pertemanan, manajemen kerja dan hal lainnya yang kemudian memaksaku untuk meninggalkan sekolah ini ketika hampir lima tahun berbagi ilmu setelah tak lagi nyaman berada dalam lingkarannya. Namun yang dapat aku banggakan bahwa dengan kemampuan dasarku saat itulah yang pertama kalinya mengajarkan bahasa inggris kepada anak-anak di sekolah itu.

Pada akhirnya momentum Hari Kemerdekaan bangsa ini yang ke 71 tahun dapat kita peringati dengan rasa bangga dan kesyukuran semoga anak-anak Indonesia diberbagai pelosok dapat merasakan nikmatnya buah kemerdekaan dengan terus menyalakan harapan untuk bersekolah dan menggapai mimpi yang lebih tinggi agar kelak menjadi generasi bangsa yang membanggakan dan membawa nama Indonesia ke kancah dunia dengan segudang prestasi. 

Usia republik ini yang ke 71 tahun mendapatkan hadiah yang paling berharga, yup adalah kemenangan Tontowi/Lilyana Natsir yang mendapatkan emas pada Olimpiade RIO menjadi bukti kegigihan anak negeri ini yang terus berjuang membanggakan negeri ini. Semoga saya dan kita semua bisa terus berprestasi di bidang yang kita geluti masing-masing yah. Amin YRA.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad